[REVIEW] IRREPLACEABLE (2026)
Irreplaceable
Halo semuanya!
AKHIRNYA, setelah sekian lama menunggu, aku bisa duduk manis dan menikmati Irreplaceable. Drama yang masih hangat-hangatnya di layar kaca ini punya tempat tersendiri di daftar tontonan yang paling aku nantikan. Bayangin, sejak pengumuman cast, aku udah dibuat penasaran sama duet Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun. Sepanjang tahun lalu, aku juga rajin mantau perkembangan dramanya melalui reteurs yang beredar di Twitter, menunggu kabar terbaru, sampai akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga.
Dan sekarang, setelah selesai menontonnya, aku cuma bisa bilang, ternyata menunggu selama itu untuk drama ini bukanlah penantian yang sia-sia. Lagi pula, siapa sih yang bisa menolak pesona duet maut Zhao Jin Mai dan Wei Da Xun?
Drama ini berhasil membuatku jatuh cinta dan meninggalkan banyak hal untuk diceritakan. Jadi, mari kita bahas!
Dalam perjalanannya, Xu Chi bertemu dengan Ye Xin Zhi (Richard). Ye Xin Zhe adalah seorang partner atau konsultan papan atas. Ia pernah dijebak oleh atasannya di masa lalu dan diam-diam sedang menyusun rencana balas dendam. Ia mengajak Xu Chi dalam rencananya tersebut. Ye Xin Zhi membimbing Xu Chi mengembangkan karirnya menjadi seorang konsultan profesional. Hubungan yang awalnya bermula dari mentor dan murid ini berubah menjadi rekan kerja hingga perlahan berkembang menjadi cinta.
Dari premis di atas itu aja aku udah bisa membayangkan kalau drama ini bakal masuk ke seleraku. OH MY GOD! So, the moment we've waiting for! Ini dia ulasanku untuk Irreplaceable. Happy reading, everyone!
SPOILER ALERT
Ada banyak alasan kenapa aku bisa jatuh cinta dengan drama ini. tapi kurasa kita harus mulai dari plotnya dulu.
Seperti yang udah aku bilang sebelumnya, bahkan dari premisnya aja drama ini udah berhasil menarik perhatianku. Premisnya terasa seperti sesuatu yang memang aku cari dari sebuah drama. Makanya, ketika akhirnya mulai menonton, aku punya ekspektasi yang tinggi. Dan untungnya, Irreplaceable berhasil memenuhi ekspektasi itu dengan sangat baik.
Aku suka banget dengan trope "Her biggest supporter". Lagian siapa yang nggak suka punya seseorang yang bisa mendukung mimpi dan menyokong hidup kita?
Aku memang punya kelemahan terhadap laki-laki dewasa yang mapan, visioner, dan punya act of service yang tinggi. Laki-laki yang bisa menjadi mentor sekaligus support system bagi perempuan kesayangannya. Seseorang yang nggak merasa terancam oleh ambisi pasangannya tapi justru ingin melihatnya tumbuh dan melangkah lebih jauh.
Bahkan ketika perempuan itu sedang terpuruk. Ia akan menjadi orang pertama yang berdiri di sisinya. Sekaligus meyakinkannya kayak "You can do it. Don't be affraid. I'm Here and i'm so proud of you."
Menurutku, ada sesuatu yang begitu romantis dari laki-laki yang memastikan perempuan kesayangannya punya kesempatan untuk membangun kehidupan yang ia impikan. Ia juga tidak membuat perempuan itu hanya berjalan di belakang seolah-olah tidak akan mampu menyamai pencapaiannya tapi mengandeng tangannya dan mengajaknya berdiri di sisinya sebagai partner yang setara.
AAAAAA. HOW AM I SUPPOSED TO BE NORMAL ABOUT THIS?
Alur cerita sempat membawa kita pada pergulatan Xin Zhe. Apakah ia benar-benar keberatan melihat Xu Chi semakin sukses dalam kariernya? Ditambah adanya hasutan setan bernama Wen Ruo Shen. Tapi menurutku, Xin Zhe bukan laki-laki picik yang takut tersaingi oleh perempuan yang dicintainya. Ia justru takut suatu hari nanti Xu Chi tidak lagi membutuhkannya.
Sebagai laki-laki dewasa dengan status elite dan pencapaiannya, Xin Zhe selama ini sudah menjadi sosok yang nyaris sempurna di mata Xu Chi. Ia adalah mentor sekaligus panutan, tempat Xu Chi bertanya, bersandar, dan mendiskusikan rencana-rencana masa depannya. Jadi, ketika Xu Chi mulai menyusun rencana tanpa lagi mempertimbangkan dirinya, Xin Zhe panik. Ia tahu Xu Chi hebat, tetapi mungkin tidak menyangka perempuan itu akan tumbuh begitu cepat, bahkan melampaui ekspektasinya sendiri.
Padahal, di balik ambisi Xu Chi untuk terus berkembang, ada keinginan untuk segera berdiri sejajar dengan Xin Zhe. Ia ingin cepat-cepat bisa berjalan di samping laki-laki yang dikaguminya.
Aku berharap Xin Zhe menyadari bahwa pertumbuhan Xu Chi juga merupakan bagian dari keberhasilan bimbingannya. Xu Chi bisa melangkah sejauh ini juga karena ia belajar dari Xin Zhe. Dan tidak mungkin tergantikan meskipun Xin Zhe tidak lagi "sempurna".
Ye Xin Zhe tuh awalnya ngerasa klik aja dengan Xu Chi. Dia melihat bakat dan potensi Xu Chi yang bisa diikutsertakan ke dalam proyek besarnya. Tapi justru usaha dan waktu yang dia habiskan bersama Xu Chi itu membentuk perasaan baru yang disebut benih-benih cinta.
Xu Chi yang masih muda pastilah nggak bisa nahan pesona om-om dengan jabatan mentereng yang bisa diandalkan ini. Tiap dia ada masalah Richard selalu ada dengan berbagai solusi. Tiap dia nggak tahu apa-apa Richard datang dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang Xu Chi butuhkan. Jadinya, tiap ketemu Richard selain tambah pinter Xu Chi juga dibuat jatuh cinta.
Yang tadinya cuma sebatas mentor, Xu Chi mulai berharap lebih dari hubungan mereka. Kataku sih, tanggung jawab ya kau Richard udah buat anak gadis orang baper. Tapi, Ye Xin Zhe berkilah bahwa perhatian dan kebaikannya ke Xu Chi itu karena dulu pas dia masih muda dan nggak tahu apa-apa nggak ada orang yang bantuin dia. Makanya sekarang dia mau jadi malaikat pelindung Xu Chi (dasar om-om modus).
Ye Xin Zhe selalu menyebut Xu Chi sebagai “gadis kecil”-nya. Seolah-olah dengan begitu dia bisa meyakinkan semua orang kalau perasaannya murni kasih sayang seorang senior pada juniornya. Oke, Richard. Tapi gadis kecil mana yang dibawa pulang ke rumah, diajak ke pesta sebagai pasangan, sampai diperkenalkan ke rekan-rekan kerja?
SUMPAH! Siapa yang nggak jatuh cinta setelah dikenalin ke perkumpulan rekan-rekan petinggi elit sebagai teman dekat? Sa Sha direktur Xu Chi aja langsung kicep pas diminta Richard buat jaga Xu Chi di kantor. Maka nggak heran setelah peristiwa itu Sa Sha mengganggap Xu Chi punya dukungan yang sama tingginya dengan Tianna. Lah gimana nggak, bekingan Xu Chi adalah maha dahsyat Richard sang partner dari perusahaan saingan.
Oh iya, dari pertemuan itu juga Lao Du tahu ada sesuatu di antara mereka berdua. Seorang Richard punya gosip bareng perempuan mah biasa. Tapi kalau Richard sendiri yang menawarkan gosip itu ke publik mana pernah? Makanya, semua orang tahu Master Ye suka Xu Chi kecuali Ye Xin Zhe sendiri.
Ye Xin Zhe menutup perasaannya pada Xu Chi dengan rapat. Makanya pas dia tahu Xu Chi punya rasa untuknya dia panik sendiri dan melakukan hal yang kekanakan banget. Dia dengan sengaja memperlihatkan pada Xu Chi bahwa ada wanita cantik dan seksi di sekitarnya sehingga Xu Chi nggak akan punya kesempatan. Bagi Richard hal itu memang cara paling cepat untuk memadamkan api kecil pada diri Xu Chi. Tapi bagi Xu Chi? Rasanya kayak dipermalukan di depan umum.
Maka dari itu aku suka banget tuh pas Xu Chi sentil egonya Richard. Dia bilang klo Richard tua, mukanya kusam dan harus banyak minum seduhan air goji (harusnya sekalian saranin pakai minyak GPU klo pegel). Terus nggak lupa Xu Chi tunjukin rekan kerjanya yang MUDA dan GANTENG.
BIARIN. BIARIN SI RICHARD RICHARD ITU KEPANASAN.
Di sinilah peran Yang Rui dibutuhkan. Sebagai senior, Yang Rui bisa lebih sering ketemu Xu Chi di kantor. Makanya Yang Rui bisa straight to point melancarkan jurus-jurus PDKT. Apalagi pas rekreasi kantor di gunung tuh. kesempatan itu dia gunakan untuk lebih memperhatikan Xu Chi sampai akhirnya mereka dinner bareng. Nah dinner inilah yang nantinya jadi pencetus adegan yang fenomenal ini.
Tapi yah peran Yang Rui hanya sebatas itu. Cuma untuk membangkitkan percikan api cemburu Master Ye, si duda bingung yang lagi diskon 40% ini. Sebagai saingan cinta, Yang Rui nggak layak sama sekali. Yang tadinya berharap mungkin nggak yah Neng Xu Chi ini goyah? Tapi enggak. Mustahil. Richard menang mutlak di segala sisi.
Xu Chi kan jatuh cinta pada Xin Zhe karena wawasannya yang luas dan sifatnya yang mengayomi sementara Yang Rui kebalikannya. Sebagai sesama konsultan, Yang Rui nggak menunjukkan sikap pembimbing yang baik. Dia nggak mau Xu Chi terlihat menonjol dalam rapat kerja. Xu Chi juga dipaksa nurut atas apapun keputusannya hanya karena ia ketua tim. Bahkan ketika Xu Chi memberikan pendapat dan menawarkan sudut pandang lain, Yang Rui marah dan bilang kalau konsultan itu bukan dewa yang bisa tahu semuanya.
Bandingkan dengan Richard yang selalu melakukan pembaruan informasi untuk memberikan data-data akurat pada klien. Menurut Richard, konsultan itu bukan menawarkan proposal palsu. Di titik ini, Xu Chi jatuh cinta lagi dan tahu kemana hatinya harus berlabuh.
Tapi, menurutku, momen paling ikonik justru saat beli minum di Dufan itu sih. HAHAHA. Sumpah ya, di situ plotnya fresh banget. Nggak pernah ada dan nggak pernah aku bayangin tolok ukur antara main lead dan second lead dari air putih.
SIAPA YANG BILANG SEMUA COWOK SAMA AJA? NGGAK YA! AIR MINUMNYA BEDA!
Bayangin, Yang Rui sampai bilang air minum pilihan Xu Chi itu mahal. Maksudku, kalaupun memang mahal, terus kenapa? Itu first date, loh! Masa nggak ada gengsinya gitu sama cewek. Dari sini, ayo sama-sama kita ucapin DASAR COWOK PELIT!
Dari urusan air putih aja, Om Richard udah beda kelas 💅 Gimana ya Bang Yang Rui, Dek Xu Chi soalnya kalau sama Om Richard selalu dikasih air minum mahal sih. Mana tahu dia kalau ada air putih murah. Udahlah, in this economy Dek Suci milih yang pasti-pasti aja. Jangankan Equil Water, rumah aja langsung dibeliin sama Richard 💸💸💸
Keputusan tepat karena Xu Chi lebih memilih Xin Zhe dapat penonton saksikan dalam perjalanan pulang dari pesta pertemuan dengan Wen Ruo Sen. Di mobil Xu Chi minum air putih lagi tuh. Airnya adalah air yang katanya mahal menurut Yang Rui ituloh. See? Setelah balik bersama Richard, Xu Chi pun kembali minum air yang dulu nggak mau dibayarin Yang Rui.
Yang Rui ini udahlah kalah saing masih sempat-sempatnya menyalahkan Xu Chi. Waktu lihat Richard nurunin Xu Chi di depan lobi dengan Land Rover hitamnya yang ganteng itu, bukannya intropeksi diri dia malah nyeletuk, "Oh, itu dia? Pacar baru kamu? Pantes kamu minta putus. Mobilnya aja bagus gitu."
LAH, BANG?!
Dengan pemikiran yang seperti itu wajar aja kalau Yang Rui bisa menjebak Xu Chi dalam kasus Tianjian. Hanya karena merasa Xu Chi yang bersalah atas berakhirnya hubungan mereka, ia merasa pacar baru Xu Chi yang jauh lebih baik darinya itu harus ikut bertanggung jawab menyelamatkan dirinya juga.
Sebenarnya Xin Zhi bisa aja ikut campur. Dengan koneksi yang ia miliki, Xin Zhi bisa menghubungi Pi Zong agar menyelamatkan Xu Chi. Tetapi, jika hal itu dilakukan kasus yang rumit ini tidak menemukan titik terang dan Xu Chi selamanya akan di cap bersalah.
Sebagai perempuan yang sedang belajar menyamakan posisinya dengan Xin Zhe, Xu Chi nggak mau dibantu. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Xin Zhe pun menghormarti keinginaan Xu Chi itu. Ia hanya memastikan Xu Chi tidak salah langkah dan menemaninya berjuang.
Ketika Xu Chi berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah, Ye Xin Zhe setia menunggunya. Maka siapa yang nggak ikut bangga ketika Xu Chi berlari memeluk Xin Zhe sampai meninggalkan Sa Sha, Tianna dan Zhao Heng? Lagi pula, siapa yang masih ingat atasan dan teman kalau ada seorang Richard di depan pintu?
Zhao Heng adalah definisi bulol sejati. Sebelum Tianna jadi miliknya, pantang baginya untuk menyerah. Dia mengejar Tianna tanpa merasa rendah diri meski ada perbedaan status di antara mereka.
Sejak sama-sama menjadi karyawan percobaan di Maxmise, Zhao Heng juga nggak pernah memandang sebelah mata Xu Chi hanya karena perempuan itu bukan lulusan kampus ternama.
Makanya, nggak heran kalau Zhao Heng dan Xu Chi bisa klop banget. Selain sama-sama bukan anak orang kaya, mereka juga punya pengalaman berjuang dari bawah. Mendekati Xu Chi ternyata bisa sekaligus menjadi jalan untuk memuluskan misinya mendapatkan Tianna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Tapi, sejujurnya aku kurang cermat memperhatikan konflik antara Zhao Heng dan Tianna. Aku tahu Zhao Heng mendekati Tianna juga karena ada keuntungan yang ingin ia dapatkan, tetapi soal tarik-ulur di antara mereka berdua, aku malah kurang menangkap apa yang sebenarnya menjadi pemicunya. Zhao Heng ingin membantu Tianna mendapatkan posisi di Siwei Group, perusahaan Ayah Tianna?
Awalnya, aku merasa kisah Lin Long ini cuma menambah durasi drama. Namun, setelah melewati keguguran dan perceraian, perjalanan Lin Long hingga akhirnya menjalin hubungan dengan Bos Shen justru terasa seperti selingan yang menghangatkan. Apalagi ketika konflik Xu Chi dan Xin Zhe semakin intens, kisah mereka menjadi pereda emosi di tengah segala kerumitan pasangan utama kita. Setiap mereka muncul, aku malah gemas sendiri. Aduh, pasangan lansia kita.
Walaupun udah semesra ini perjalanan cinta antara Xu Chi dan Ye Zin Zhe nggak secepat itu. Ye Xin Zhe sempat menjadi cowok bingung yang akhirnya balik mengejar Xu Chi. Confessnya pake ala-ala "the moon is beautiful, isn't it?" lagi. Kurang gen-z apa om-om milenial satu ini.
Masalahnya waktunya kurang tepat Om. Xu Chi yang lagi hektic karena kerjaan sampai harus kena skorsing mana konek kode begitu. Makanya, Xin Zhe panik sampai harus pulang dari perjalanan dinasnya. Koper aja belum sempat ditaruh di rumah langsung meluncur ke kos-kosan Xu Chi.
Di balik trope gen z gf dan millenial bf ini ada si cegil Xu Chi yang nggak pantang menyerah menaklukan Richard. Bahkan alasan terbesar ia menerima cinta Yang Rui sebenarnya adalah untuk membuat Richard tahu nilai Xu Chi itu besar. Kayak, "If you don't want to be with me, someone else will."
Setelah tahu Richard telah terbakar cemburu karena hubungannya dengan Yang Rui, si cegil kita ini makin ngejar. Dia dengan sengaja daftar member ke gym langganan Xin Zhe dan Lao Du untuk membuat skenario "nggak sengaja ketemu". Buat apa? Buat ngabarin Xin Zhe kalau dia udah putus.
Ingat ya! Jodoh itu bukan dicari tapi dijebak!
Adegan favoritku ada di episode 16. Saat itu, Xu Chi sedang berada di salah satu fase terpuruk dalam hidupnya. Selama ini, rumah lama ibunya menjadi tujuan yang ia perjuangkan sekaligus tempat yang memberinya rasa aman dan penerimaan. Namun, ketika rumah itu tinggal selangkah lagi menjadi miliknya, ia justru harus menerima kenyataan bahwa bangunan tua tersebut dinyatakan tidak aman dan akan digusur pemerintah. Rasanya seperti semua kerja kerasnya selama ini tidak membuahkan hasil apa-apa.
Di sisi lain, Ye Xin Zhe yang memahami luka Xu Chi langsung tahu bahwa perempuan itu tidak akan mudah melewati badai kali ini sendirian. Keputusannya meninggalkan rapat bersama Lao Du demi menyusul Xu Chi menjadi bukti tentang apa yang kini paling penting dalam hidupnya.
Dendam terhadap Wen Ruo Shen memang berarti baginya. Bagaimana tidak? Sepuluh tahun ia habiskan untuk merencanakan semuanya. Namun, dendam itu merupakan bagian dari masa lalunya, sedangkan Xu Chi adalah masa depannya. Dan ketika Xin Zhe berkata, "She's my future." (Salting sambil kayang. Hehe.)
Saat Ye Xin Zhe memeluk Xu Chi yang menangis di kamar itu, DAHLAH. DIMANA CARI LAKI-LAKI BEGINI, WOI?!
Bayangkan, seorang laki-laki yang selama bertahun-tahun hidup dengan dendam akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada menyelesaikan urusan masa lalunya. Ia punya seseorang yang ingin ia temani menghadapi masa depan.
Malam itu, Xin Zhe merengkuh luka Xu Chi dan menemaninya melewati kesedihan yang sulit ia ungkapkan. Sebab, yang hilang dari Xu Chi ketika rumah ibunya tak lagi bisa menjadi miliknya bukan sekadar sebuah bangunan, melainkan rasa aman dan penerimaan yang selama ini ia perjuangkan.
Makanya, pagi harinya kita disuguhi adegan lamaran paling manis ini. Siapa yang terharu menyaksikan lamaran mereka? AKU! AKU!
Xin Zhe seolah ingin mengatakan bahwa ketika tempat yang selama ini Xu Chi anggap sebagai rumah tak lagi bisa ia miliki, ia tak harus menghadapi kehilangan itu sendirian. Ada tempat aman baru yang bisa Xu Chi miliki dan ada seseorang yang ingin membangun masa depan bersamanya.
Aku mau mempersembahkan paragraf ini untuk memuja Ye Xin Zhe. Mau sungkem sama casting director yang udah menggaet Wei Da Xun sebagai Master Ye. Ye Xin Zhe tuh ya klo udah senyum ALLAHU AKBAR mati kita! Gula pun kalah manisnya. Kok bisa ada manusia begini kok bisa! Dia ini kan nggak banyak tingkah yakkk tapi kalau udah senyum terus si Xu Chi salting tingkat menariknya di mataku jadi meningkat. Terus aku jadi membayangkan gimana kalau laki-laki langka begini jadi milik kita bersama?
Kalau nggak salting dengan plot romansa dan senyum semanis gula punya Wei Da Xun, agak-agaknya aku bisa ke-trigger dengan kerja keras mereka berdua. Richard yang sibuk dan Xu Chi ambisius malah aku yang capek. Setelah jadian aja mereka cuma punya waktu dua jam untuk ketemu. Saking nggak punya waktunya. Ada yang bilang kerja keras tidak akan mengkhianati hasil itu nggak selalu benar. Sebab, kerja keras memang wajib tapi hasil sepenuhnya adalah kuasa Tuhan. Tapi gimana kalau ternyata kerja keraslah yang membawa Xu Chi pada mimpi-mimpinya dan aku adalah seseorang yang kurang bekerja keras itu?
Aku juga ingin membahas sedikit tentang balas dendam yang dilakukan Ye Xin Zhe. Pada akhirnya, dendam memang bisa menjadi buah simalakama. Setelah bertahun-tahun menjadikannya sebagai bahan bakar untuk terus maju, Xin Zhe justru tidak menemukan kepuasan yang ia bayangkan ketika akhirnya berhasil mewujudkan balas dendamnya. Seolah-olah semua pencapaian yang selama ini ia kejar kehilangan sebagian maknanya begitu tujuan itu tercapai.
Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, bagaimana jika dendam itu tidak pernah ada? Apakah Ye Xin Zhe akan tumbuh menjadi sosok yang sama ambisiusnya? Mungkin saja, tetapi aku rasa dendam turut membentuk cara Xin Zhe memandang kesuksesan dan mendorongnya untuk terus membuktikan sesuatu. Barangkali, tanpa luka masa lalu itu, ia tetap akan menjadi laki-laki hebat, tetapi tidak harus mengorbankan begitu banyak hal demi mencapai posisinya sekarang.
Pada akhirnya, dendam berhasil membawanya sampai sejauh ini, tetapi tidak serta-merta memberinya kedamaian. Sebab, ada perbedaan antara berhasil mengalahkan seseorang dan benar-benar terbebas dari luka yang ditinggalkannya. Mungkin kemenangan terbesar Xin Zhe bukanlah ketika ia berhasil membalas dendam, melainkan ketika ia akhirnya bisa menjalani hidup tanpa harus terus-menerus menjadikan masa lalunya sebagai alasan untuk melangkah.
Sebelum tayang orang-orang bilang jangan berharap banyak deh sama romance-nya. Drama dengan genre urban romance begini pasti romance-nya cuma tipis-tipis doang. Terus ditambah karena Irreplaceable tayang setelah ledakan besar The Early Spring (2026) yang mau nggak mau keduanya menjadi bahan perbandingan netizen.
Tapi setelah tayang dengan tegas aku bisa bilang, SAYA AKAN LAWAN! Irreplaceable punya porsi romansa yang kuat. Walaupun tentu saja jelas ini bukan romcom ya. Arah pendekatan kedua drama itu jadinya juga berbeda.
Dan yang paling membuatku jatuh cinta pada Richard adalah ia berbanding terbalik dengan Luke. Padahal mereka sama-sama lebih senior dari female lead. Tetapi Richard yang soft spoken dan bimbingannya tanpa menggurui itu rasanya lebih membuatku terpikat. Yang membuat mereka tampak sama adalah karena sama-sama berlatar tentang kehidupan perkantoran. Sehingga sekilas keduanya tampak mengangkat kisah yang serupa.
Satu hal yang membuat Irreplaceable lebih unggul karena ia memberikan pengalaman menonton yang lebih membuat berdebar (cuz i'm little bit disappointed with TES). Irreplaceable tuh memberikan hasil akhir yang sepadan dengan penantianku selama ini. Aku puas banget. Suka premisnya. Suka plotnya. Suka alurnya. Suka karakternya. Suka hubungan keduanya. Suka romansanya. Suka konfliknya. Suka juga ending-nya. Suka semuanya.
Dengan 20 episode drama ini menghadirkan plot yang padat dengan pace relatif cepat. Meskipun sat set, ceritanya nggak kayak lompat-lompat. Skema alurnya itu kerja → konflik → anti konflik → resolusi → evaluasi bareng Richard → konkluksi. Pola ini terjadi dalam 1 sampai 2 episode terus menerus sehingga tiap case langsung clear. Penonton nggak akan ngerasa muak bahkan dengan plot perkantoran yang mendominasi. Cuma menjelang pisode akhir penyelesaian konfliknya memang agak terburu-buru. Kayak ada yang mengganjal gitu. Tapi tenang kok, bagiku itu cukup.
Yang tadinya aku pikir akan santai setelah stres dengan klimaks dari hubungan Ye Xin Zhe dan Xu Chi. Malah nggak nyangka tensionnya di bawa naik lagi. Tapi aku bersyukur sih masalah Xin Zhe dan Xu Chi langsung selesai di episode itu juga. Aku sampe teriak, sumpah deh Richard kalau nggak kau kejar si Xu Chi itu putus kalian mampos. Kalau konflik itu berlarut-larut lagi nggak tau deh mentalku gimana ke depannya.




































Komentar
Posting Komentar