[REVIEW] Love Between Lines (2026)
Love Between Lines
Hi My Day...
Apa kabar? Seperti janjiku sebelumnya, nggak butuh waktu lama untukku kembali menyapa kalian. Kalian harus tahu, aku senang sekali bisa menulis di sini lebih sering lagi. Kita buka awal tahun 2026 dengan menulis kisah-kisah manis lainnya, ya.
So, setelah menyelesaikan Shine on Me (2025), kita kedatangan drama baru dari Chen Xing Xu dan Lu Yu Xiao. Kedua orang ini sebenarnya udah nggak asing di telingaku. Apalagi kesan pertamaku pada keduanya sangatlah bagus.
Chen Xing Xu, aktor yang dibilang banyak orang punya wajah yang nggak sesuai dengan usianya ini pertama kali kusaksikan dalam drama My Boss (2024). Sebenarnya jauh sebelum itu, aku tahu dia tuh dari drama Fall in Love (2021). Tapi drama itu entah gimana ceritanya ter-skip dan ketunda-tunda terus. Sampai akhirnya aku berjodoh dengan My Boss (2024) dan menyaksikan karya pertamanya saat berduet dengan Zhang Ruo Nan.
Di sana, aku sangat terkesan dengan akting Xing Xu. Luapan emosi dan ocehan dingin dia di situ berasa nembus layar. Awalnya aku juga cukup kaget ya. Ternyata Xing Xu seumuran dengan Ruo nan, kirain dia lebih tua.
Terus aku lihat Xing Xu lagi A Beutiful Lie (2024). Tapi aku nggak berhasil menamatkan drama ini. Sebab, karakter Xing Xu dan plot ceritanya menurutku kurang baik. Aku juga dapat spoiler kalau open ending. Jadi nggak sampai selesai deh.
Sejak itu, aku terus menantikan karya Xing Xu. Saat dirumorkan akan bergabung dengan Dilraba Dilmurat dalam Love on the Turqoise Land (2025) aku seneng banget dong. Kapan lagi dua kesayangan bersatu ya, kan? Dan hasilnya aku sangat puas. Gila! Dari episode pertama aja udah keren banget. Penyajiannya udah sekelas film. Drachin berasa bukan drachin. Akting Xing Xu? Tetap sama. Dia berkembang sama baiknya dan sama gantengnya. Hehe.
Lu Yu Xiao, aktris ini sudah menarik perhatianku di My Journey to You (2023) saat beradu akting bersama dengan Cheng Lei. Padahal aku nonton drama ini karena Zhang Ling He, but karakter Gong Shangjue dan Shangguan Qian sangatlah mengalihkanku dari fokus utama. Shangguan Qian adalah karakter matang yang diperankan sangat baik oleh Yu Xiao. Di sana, dia dapat menampilkan kecemasan, ketakutan, kehati-hatian, tapi tetap kuat dan berani. Apalagi dia cantik banget. Jadi, aku harus mulai ngikutin Jie Jie satu ini.
Maka di sinilah, aku berjodoh dengan Xing Xu dan Yu Xiao melalui Love Between Lines.
Love Between Lines adalah drama berjumlah 28 episode yang bisa kalian saksikan di IQIYI dan VIU. Drama ini diadaptasi dari novel populer karya Zu Le. Menceritakan tentang romansa dua orang yang bertemu melalui game virtual kemudian bertemu di dunia nyata. Dari interaksi game virtual ke realitas keduanya tumbuh dan saling memahami perasaan masing-masing.
Xiao Zhi Yu adalah seorang arsitek ternama pendiri Studio Dynamism. Etos kerjanya yang tinggi membuat dirinya dengan cepat menjadi seseorang yang ahli di bidang itu. Sebagai boss yang disegani karena kemampuannya, Zhi Yu tampak dingin dan sulit didekati. Ini terjadi bukan tanpa alasan. Dibalik itu semua Zhi Yu menyimpan dendam dan kebencian sejak kecil.
Hu Xiu adalah asisten manager umur di sebuah perusahaan properti. Sebenarnya, ia adalah lulusan arsitektur. Namun, karena insiden yang menimpa sang Ayah, ia harus meninggalkan mimpinya menjadi arsitek dan bekerja dengan posisi yang stabil. Meskipun demikian, mimpinya tak pernah mati. Ia terus belajar dan mengikuti perkembangan arsitektur agar kelak dapat menyusul ketertinggalan serta menjadi arsitek yang mumpuni.
Dari latar belakang mereka yang sama, siapa yang menyangka mereka justru pertama kali di pertemukan melalui sebuah game virtual. Dari sana kisah mereka terus berlanjut dan menjadi penyembuh satu sama lain.
Berikut review-ku untuk Love Between Lines. Semoga kalian suka. Enjoy.
SPOILER ALERT
Episode awal drama ini dibuka dengan cerita game virtual yang sebenarnya agak membosankan. Tapi jangan khawatir, fase ini nggak lama karena aku malah nagis lihat mereka di game. Penampilan mereka di dalam game tuh ganteng dan cantik banget. Memanjakan mata sekali melihat era republik dengan salju-salju itu. Apalagi ternyata nantinya game ini mempunyai plot yang sangat penting bagi perkembangan cerita. Aku memang suka lupa dengan pace lambat di drama China hehe.
Di awal kemunculannya, Hu Xiu itu digambarkan sebagai karakter Female Lead khas drama banget. Perempuan yang “biasa-biasa aja” tapi dalam satu waktu mendapat kesialan. Tunangannya kabur tepat di hari pertunangannya. Hancur bukan main. Hu Xiu sampai cuti sebulan karena patah hati. Mengurung diri di kamar adalah caranya menata diri lagi.
Pertemuan Hu Xiu dan Zhi Yu ini tipe romcom yang sering kita temui. Pertama kali bertemu dalam sebuah game virtual, lalu mempunyai kesan satu sama lain. Kemudian, dipertemuan lagi seolah takdir. Zhi Yu adalah karakter game yang menyebalkan siapa sangka ternyata adalah penyewa rumah Hu Xiu sekaligus arsitek idolanya yang kelak akan menjadi atasannya. Script banget, ya kan?
Tapi kalau kita meyakini nggak ada kebetulan di dunia ini melainkan itu adalah cara Tuhan memberikan jalan, kurasa pertemuan mereka memang semacam takdir. Datangnya Zhi Yu di hidup Hu Xiu mengubah hidupnya. Begitu pun sebaliknya. Dan plot yang begini nih yang kita-kita penonton butuhkan. Seorang pangeran berkuda putih yang tiba sebagai penyelamat dan seseorang yang butuh sandaran lalu sembuh dari traumanya karena menemukan perempuan yang dicintainya.
Ada dialog Yu ke Hu Xiu yang aku suka banget. Sebenarnya bisa dibilang diterimanya Hu Xiu di Dynamism karena koneksi juga ya, kan? Nggak bisa dipungkiri Zhi Yu itu awalnya kasihan mendengar kisah dan mimpi Hu Xiu. Tapi ketika Hu Xiu nanya, Zhi Yu, Zhi Yu dengan tegas menjawab bahwa kasihan yang disebut oleh Hu Xiu itu adalah sebuah potensi. Selain karena Zhi Yu bukan tipe orang yang menerima koneksi, jawaban Zhi Yu sebenarnya sedang menjaga harga diri Hu Xiu dan juga sebuah kepercayaan bagi Hu Xiu. Maka nggak heran dalam scene itu Hu Xiu sampai nangis terharu. Dia sampe minta draft desain punya Zhi Yu untuk belajar. Sebab, pada momen itu Hu Xiu pasti merasa bisa menaklukan segalanya. Mendapatan pengakuan atas mimpi yang terpaksa kita kubur itu bisa membuat hati menjadi hangat. Dari scene inilah, cara pandangku menonton Love Between Lines berubah. Aku mulai menikmati cerita yang tersaji didalamnya.
Aku selalu suka dan jatuh cinta dengan cara Zhi Yu mendukung Hu Xiu. Dia bukan cuma kasih motivasi semata. Melainkan membuat Hu Xiu percaya diri dan nggak minder lagi. Seolah, Hu Xiu itu hebat, maka dia harus tegak dan melangkah. Zhi Yu menjadikan Hu Xiu berani dalam ketakutannya. Zhi Yu bukan nyuruh atau memerintah orang dengan omong kosong. Dia lebih meyakinkan diri orang itu dengan kekuatan yang orang itu miliki.
Tapi untungnya yang aku takutkan nggak terjadi. Bagaimana pun juga, proses seorang penonton jatuh cinta apalagi sampai oleng ke tokoh lain itu haruslah disertai dengan kemampuan tokoh itu sendiri. Aku melihat Pei Zhen tidak semenjanjikan itu untuk mengalahkan Zhi Yu. Pei Zhen nih kan orang yang dikasih pilihan sama Tuhan mau jadi baik atau jahat tapi dia malah milih jadi jahat. Nah, karakter yang begini nih aku nggak suka.
Antagonis yang aku suka itu dia sejak awal cuma punya pilihan jadi jahat. Dunia ini nggak adil ke dia sehingga dia nggak tahu jalan lain selain itu. Dan yang bisa menempati posisi ini menurutku adalah Princess Wanning dari The Double (2024). Sementara Pei Zhen, ia bisa aja jadi baik. Apalagi trik yang dia pakai di awal kemunculannya manfaatin Jiang Tianyi dalam tender Lyman itu kayak kekanakan banget. Dia bisa aja bersaing secara sehat, kan? Ngapain menempuh jalan yang merusak citra diri.
Fakta hubungan antara Pei Zhen dan Zhi Yu juga cukup membuatku tercengang. Teka-teki hidup Zhi Yu terpasang satu persatu. Aku jadi mengerti arti tatapan keduanya. Dendam, benci, dan luka.
Penulis memang jago memorak-porandakan hati, aku pada akhirnya kembali membenci Pei Zhen. Dia ini memang second lead final boss sih. Aku yang pernah secara ajaib mewajarkan sifatnya setelah tahu itu semua karena tekanan sang Ayah. Tiba-tiba membencinya lagi. Sebab pilihan menjadi licik dan kekanak-kanakan itu sebenarnya tetap di tangan Pei Zhen sendiri. Cintanya untuk Hu Xiu memang awalnya tulus dan murni tapi berubah menjadi obsesi. Tertarik di lift - Makin tertarik karena orang dekat Zhi Yu - Manfaatin - Eh jatuh cinta beneran - Obsesi (karena Hu Xiu udah jadi milik Zhi Yu). So, sorry aku nggak kasihan sama sekali.
Ini juga yang disebut oleh Zhi Yu. Gimana pun, darah Pei Kuangha mengalir di dalam diri Pei Zhen. Itulah yang menyebabkan Pei Zhen akhirnya sadar diri, apa yang membedakannya dengan Zhi Yu. Kayaknya juga kalau Hu Xiu itu bukan gebetan Zhi Yu, aku rasanya Pei Zhen nggak akan sengamuk itu juga sih. Yang menjadi fokus dia sejak kecilkan Zhi Yu. Dia pengen bersaing sama Zhi Yu tapi Zhi Yu bahkan nggak pernah anggap dia saingan. Tapi dengan adanya Hu Xiu, Zhi Yu bereaksi terhadap Pei Zhen. Yah walaupun Hu Xiu udah duluan jadi milik Zhi Yu.
Semua ini gara-gara plaster yang Hu Xiu kasih ke Pei Zhen itu. Tanggung jawab lo Hu Xiu. Yang di tambal kening Pei Zhen, yang sembuh malah hatinya. Eaaaaa.
Tapi semenjak insiden itu, Hu Xiu udah ngejaga jarak kok dari Pei Zhen. Dia nerima kotak makan siang karena ada embel-embel tanda terima kasih doang. Lalu ternyata Zhi Yu keberatan dengan dan cemburu, kan. Maka mulai saat itu Hu Xiu menolak semua pemberian Pei Zhen. Good girl!

Apa yang diucapkan Hu Xiu rasanya seperti emosi yang juga ada dalam diriku. Emosi yang bahkan aku sendiri nggak tahu namanya apa. Aku berterima kasih pada Hu Xiu lantaran telah mendefinisikan emosi itu sehingga rasanya beban yang sama juga ikut keluar dariku. Mendengar penuturan Hu Xiu bagaimana Ayahnya mendefinisikan ia hanya berputar-putar lalu kembali lagi ke arsitektur seperti mendengar perkataan orang-orang disekitarku. Padahal yang harus sang Ayah tahu, Hu Xiu menyukai arsitektur. Hu Xiu sudah menyerah sekali karena kondisi Ayahnya, demi alasan yang katanya stabil. Setelah lulus kuliah Hu Xiu sudah melewatkan kesempatan itu sekali. Dia pernah menyerah sekali. Apakah ia haruskah melakukan semua itu sekali lagi. Dan ketika ia berpikir pernah menyerah, ia menyesal.
Dialog itu seperti pecahan kaca yang menusuk telingaku. Apakah aku juga menyesal karena melewatkan kesempatan saat kuliah dulu? Apakah seharusnya aku nggak menuruti keluargaku untuk kuliah di jurusan yang katanya stabil menurut mereka dan memilih apa yang kusukai? Apakah aku mampu mencoba sekali lagi? Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu, rasanya aku ingin menata diriku lagi. Berpikir lebih jauh lagi. Memutuskan sekali lagi. Dan kuharap aku juga akan seperti Hu Xiu. Menemukan “Zhi Yu” yang lain. Zhi Yu yang membawaku kepada kepercayaan diriku lagi. Zhi Yu yang mengantarkanku pada langkah-langkah yang harus kulakukan. Bahkan jika “Zhi Yu” itu tidak datang. Aku akan menemukan kepercayaan diriku melalui diriku sendiri.
AKu masih janggal, kok bisa Ibu Zhi Yu nggak percaya banget sama suaminya, ya? Zhi Yu yang masih kecil aja yakin kalau Ayahnya nggak mungkin bunuh diri dan meninggalkan tanggung jawab. Masa sang Istri ngehakimin suaminya dan malah nikah sama temen si suami yang dicurigai atas kematian suaminya itu. Mampos, gimana rasanya udah ngerawat orang yang ngebunuh suami sendiri sampe tua.? Pei Zhen kan selalu bilang kalau Ibunya dan Zhi Yu itu seharunya bersyukur karena ditampung sama keluarga Pei. Maksudku takut miskinkah Ibunya? Makannya cepet-cepet nikah lagi? Terus waktu dia marahin Zhi Yu karena udah selidiki Zhuling bilang kalau Zhi Yu udah buat dia kehilangan keluarga lagi. Dih, takot kali nggak punya pasangankah si ibu ini? Yang bisa aku tarik dari kelakuan ibu Zhi Yu ini adalah perempuan memang harus punya kekuatan dan keberanian. Bukan soal harta aja. Tapi prinsip yang nggak harus bergantung dengan pasangan Lihat aja tuh, anaknya tanpa pengaruh Zhuling juga bisa sukses, kan?
Terus kisah Zhao juga sedih sih. Di awal ditunjukkan betapa harmonisnya pasangan muda ini. Suaminya Guang Min juga tipe suami yang penuh kasih dan lurus-lurus aja gitu hidupnya. Tapi, penonton tuh ya selalu di kasih petunjuk kalau nih laki-laki lagi selingkuh. Pasti curiga dong kita. Tapi Guang Min selalu bisa menunjukkan kesetiaannya. Yang paling meyakinkan itu waktu dia ngabarin Zhao kalau ketemu adik kelasnya waktu di acara kantor. I mean, H-semenit adik kelasnya itu muncul, dia langsung ngabarin. Aku kayak, dah fix setia ini orang. Namun, itulah ya, mulut lelaki mana yang bisa di percaya.
Wang Guang Min ternyata dekat dengan adik kelasnya sejak hari itu. Mereka tiap hari chat-an. Walaupun dalam rangka yang menurut Guang Min cuma cari koneksi kerjaan tapi dia pasti bisa nengok dong kalau tuh cewek genit. Dih, masih muda suka sama suami orang. Tobat, Mba. Obsesi Guang Min ingin cepat mandiri dan menghasilkan banyak uang untuk istrinya justru membawa petaka. Dia memang "manfaatin" si junior itu demi kerjaan. Tapi dia lupa, niat awal kerja itu untuk siapa. Walaupun Guang Min bilang dia cuma pernah ciuman sekali itu doang dan dia juga nolak tapi nggak jujur sejak awal bahkan sampai si perempuan mengambil kendali atas Guang Min apa lagi kalau bukan selingkuh. Makannya aku salut banget sama Zhao yang bisa langsung cut off si suami.
Hubungan Zhao dengan Bos Gong juga menurutku cukup ya. Open ending bagi mereka adalah yang terbaik. Bahkan aneh banget kalau tiba-tiba Zhao bisa langsung move on atau Bos Gong langsung PDKT. Biarlah kisah mereka terjadi di off screen dalam waktu yang panjang. Cukup di rasakan oleh penonton aja.
Aku nggak nyangka sih ternyata Hu Xiu se-cegil itu. Cegil dia tuh centil banget ya ampun. Aku sukaaaaaaaa! Terus reaksi Zhi Yu juga dia menerima dan siap menanggung apapun kelakuan Hu Xiu. Hu Xiu mau peluk? Silahkan. Hu Xiu nyium tiba-tiba? Silahkan, cium lagi kalau bisa ya. Hu Xiu manja banget ngelendot mulu? Sini-sini deket lagi. Modusnya yang nyium jakun Zhi Yu lagi di RS itu juga, bener-bener ya. Dokter! Lihat Hu Xiu Dokter! Terus yang dia mainin tangan dan leher Zhi Yu pas di taman itu. Astaga. Hu Xiu tuh kayak gemes banget kalau dekat-dekat Zhi Yu. Yahh lagian aku juga akan gitu sih kalau punya pacar seseksi Zhi Yu??????? Lihat nggak biseps dia pas pakai baju tanpa lengan? Pantes Hu Xiu kecintaan.
Maka dari itu, hadirnya Hu Xiu juga berkah bagi Zhi Yu. Mereka saling menghibur satu sama lain. Di dalam tekanan hidup mereka tumbuh bersama. Dari situ pulalah, kasihan dan kenyamanan perlahan tumbuh menjadi cinta.
Terima kasih kepada tim produksi telah membuat cerita yang begitu indah.
Terima kasih kepada Chen Xing Xu dan Lu Yu Xiao atas penampilan sempurnanya.
Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Sampai jumpa di postingan berikutnya!























Komentar
Posting Komentar